Harga: Rp 30.000
Deskripsi: <div align="justify">Apakah ada kaitan antara seni dan iman? Titik temu muara keduanya: hati manusia.
Seni bersentuhan dengan hati manusia yang merasakan keindahan, Iman pun menuntut
keterlibatan perasaan kita juga akan Tuhan yang maha indah. Seni itu jalan menuju
Keindahan Sejati, yakni Allah sendiri. Demikianlah dengan seni seseorang pun dapat
beriman, atau lebih tepat dapat mengungkapkan imannya; dan kita disebut ‘the artists
of faith’, seniman-seniman beriman.
<br>
<br>Tetapi seni itu tidak hanya demi seni saja. Seni bisa juga menuai perdamaian.
Inti program ini terletak pada butir terakhir tersebut. Kita mulai dari seni ‘desain
medali perdamaian’ kaum muda di Swiss. Ada 160 desain medali yang dibuat anak-anak
muda tersebut. Ada desain bunga-bunga, diantaranya ada tangan pembawa damai dan
wajah-wajah manusia. Selain membuat desain medali itu mereka pun membuat pernyataan
bersama tentang perdamaian. Misalnya: mereka tidak menginginkan perang, perdamaian
dan rekonsiliasi dimulai dari mereka sendiri. Bagian kedua program berupa videoclip
‘Dalam Perahu’-nya seorang pemuda yang bernama Giwang. Menurutnya, hidup kita
seperti ‘dalam perahu’ yang dioleng oleh ombak dan angin narkoba, peperangan,
konflik, dsb. Bagian terakhir berisi seni pahat/patung G. Sidharta. Latar belakang
hidupnya di tengah masyarakat plural menghasilkan seni yang ‘plural’ juga. Dia
mengajak kita untuk mendekati seni secara kontinyu dan lama, agar seni itu bisa
bermakna.
<br>
<br> Program ini dapat digunakan dalam pelajaran agama, seni budaya. Hal-hal yang
bisa diperdalam melalui program ini: sejauh mana perasaan menentukan hidup beriman
kita? apa yang anda buat demi perdamaian? sikap kita terhadap pelbagai perbedaan
(agama, suku, dsb) dalam hidup kita? apakah pendidikan seni yang menjadi bagian
dari keagamaan sudah mendapat tempat? Program ini pernah ditayangkan di stasiun
tv Indosiar dalam acara ‘Penyejuk Imani Katolik’, 27 Januari 2002. </div>
Dilihat: 3084
Apakah ada kaitan antara seni dan iman? Titik temu muara keduanya: hati manusia.
Seni bersentuhan dengan hati manusia yang merasakan keindahan, Iman pun menuntut
keterlibatan perasaan kita juga akan Tuhan yang maha indah. Seni itu jalan menuju
Keindahan Sejati, yakni Allah sendiri. Demikianlah dengan seni seseorang pun dapat
beriman, atau lebih tepat dapat mengungkapkan imannya; dan kita disebut ‘the artists
of faith’, seniman-seniman beriman.
Tetapi seni itu tidak hanya demi seni saja. Seni bisa juga menuai perdamaian.
Inti program ini terletak pada butir terakhir tersebut. Kita mulai dari seni ‘desain
medali perdamaian’ kaum muda di Swiss. Ada 160 desain medali yang dibuat anak-anak
muda tersebut. Ada desain bunga-bunga, diantaranya ada tangan pembawa damai dan
wajah-wajah manusia. Selain membuat desain medali itu mereka pun membuat pernyataan
bersama tentang perdamaian. Misalnya: mereka tidak menginginkan perang, perdamaian
dan rekonsiliasi dimulai dari mereka sendiri. Bagian kedua program berupa videoclip
‘Dalam Perahu’-nya seorang pemuda yang bernama Giwang. Menurutnya, hidup kita
seperti ‘dalam perahu’ yang dioleng oleh ombak dan angin narkoba, peperangan,
konflik, dsb. Bagian terakhir berisi seni pahat/patung G. Sidharta. Latar belakang
hidupnya di tengah masyarakat plural menghasilkan seni yang ‘plural’ juga. Dia
mengajak kita untuk mendekati seni secara kontinyu dan lama, agar seni itu bisa
bermakna.
Program ini dapat digunakan dalam pelajaran agama, seni budaya. Hal-hal yang
bisa diperdalam melalui program ini: sejauh mana perasaan menentukan hidup beriman
kita? apa yang anda buat demi perdamaian? sikap kita terhadap pelbagai perbedaan
(agama, suku, dsb) dalam hidup kita? apakah pendidikan seni yang menjadi bagian
dari keagamaan sudah mendapat tempat? Program ini pernah ditayangkan di stasiun
tv Indosiar dalam acara ‘Penyejuk Imani Katolik’, 27 Januari 2002.