Harga: Rp 30.000
Deskripsi: <div align="justify">Tokoh idola memainkan peran penting dalam kehidupan kita sebagai manusia, khususnya
kaum muda. Peran utamanya terletak justru pada perjuangan dan kesaksian hidupnya
di dunia yang sepatutnya menjadi teladan. Kita mengenal tokoh Gandhi, Simon Bolivard,
dsb. Gereja Katolik mengenal Fransiskus Xaverius sebagai salah satu orang kudus.
Kita berharap bahwa tokoh yang pernah datang ke Indonesia ini mampu menjiwai kita,
dan meningkatkan hidup beriman kita.
<br>
<br>Pada bagian III ini kita melanjutkan perjalanan Fransiskus Xaverius. Di Jepang
dia menjumpai sesuatu yang baru lagi: budaya. Itulah kesulitannya: dia harus belajar
bahasa setempat yang khas dalam 5 bulan pertamanya, sopan-santun, dsb. Demikian
pula alam yang tidak bersahabat dengannya. Berhari-hari dia berjalan melewati
pegunungan dan lembah yang diselumuti salju putih. Kadang terjatuh dan kelaparan.
Kakinya terluka, membengkak dan berdarah mewarnai salju. Dia menghadapi pertanyaan
tentang rasa sakit dan penderitaan. Akhirnya perjalanan Fransiskus berhenti di
pantai daratan Cina ketika dia menyerahkan jiwanya kepada Sang Pemberi Hidup.
Perjalananannya menjadi peziarahan iman, seorang petualang tanpa tujuan menjadi
seorang musafir. Sang pengembara meninggal, didampingi seorang teman dan sebuah
impian.
<br>
<br>Program ini dapat digunakan dalam pelajaran agama, psikologi (menumbuhkan motivasi),
seni budaya. Hal-hal yang bisa didiskusikan: bagaimana kita menyikapi kesakitan
dan penderitaan hidup kita? bagaimana iman berperan di dalamnya? Apakah impian
kita dalam menjadikan hidup ini bermakna? </div>
Dilihat: 2996
Tokoh idola memainkan peran penting dalam kehidupan kita sebagai manusia, khususnya
kaum muda. Peran utamanya terletak justru pada perjuangan dan kesaksian hidupnya
di dunia yang sepatutnya menjadi teladan. Kita mengenal tokoh Gandhi, Simon Bolivard,
dsb. Gereja Katolik mengenal Fransiskus Xaverius sebagai salah satu orang kudus.
Kita berharap bahwa tokoh yang pernah datang ke Indonesia ini mampu menjiwai kita,
dan meningkatkan hidup beriman kita.
Pada bagian III ini kita melanjutkan perjalanan Fransiskus Xaverius. Di Jepang
dia menjumpai sesuatu yang baru lagi: budaya. Itulah kesulitannya: dia harus belajar
bahasa setempat yang khas dalam 5 bulan pertamanya, sopan-santun, dsb. Demikian
pula alam yang tidak bersahabat dengannya. Berhari-hari dia berjalan melewati
pegunungan dan lembah yang diselumuti salju putih. Kadang terjatuh dan kelaparan.
Kakinya terluka, membengkak dan berdarah mewarnai salju. Dia menghadapi pertanyaan
tentang rasa sakit dan penderitaan. Akhirnya perjalanan Fransiskus berhenti di
pantai daratan Cina ketika dia menyerahkan jiwanya kepada Sang Pemberi Hidup.
Perjalananannya menjadi peziarahan iman, seorang petualang tanpa tujuan menjadi
seorang musafir. Sang pengembara meninggal, didampingi seorang teman dan sebuah
impian.
Program ini dapat digunakan dalam pelajaran agama, psikologi (menumbuhkan motivasi),
seni budaya. Hal-hal yang bisa didiskusikan: bagaimana kita menyikapi kesakitan
dan penderitaan hidup kita? bagaimana iman berperan di dalamnya? Apakah impian
kita dalam menjadikan hidup ini bermakna?